Pages

Pages - Menu

Friday, March 25, 2016

Tekhnik Terapi Psikoanalisis

Teknik – teknik dalam terapi psikoanalisa
Dalam melakukan terapi psikoanalisa ada beberapa tekhnik yang bisa dilakukan  dan dikemukakan oleh Freud, diantaranya adalah Asosiasi bebas, Penafsiran, Analisis mimpi dan Analisis resistensi
  1. Asosiasi bebas
Teknik pokok dalam terapi psikoanalisa adalah asosiasi bebas. Terapis memerintahkan klien untuk menjernihkan pikirannya dari pemikiran sehari-hari dan sebanyak mungkin untuk mengatakan apa yang muncul dalam kesadarannya. Yang pokok, adalah klien mengemukakan segala sesuatu melalui perasaan atau pikiran dengan melaporkan secepatnya tanpa sensor.Terapi asosiasi bebas adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman2 masa lalu & pelepasan emosi2 yg berkaitan dg situasi2 traumatik di masa lalu. Pasien secara bebas mengungkapkan segala hal yang ingin dikemukakan, termasuk apa yang selama ini ditekan di alam bawah sadar. Pasien mengungkapkan tanpa dihambat atau dikritik. Namun, ada hal yang menjadi salah satu hambatannya yaitu pasien melakukan mekanisme pertahanan diri saat mengungkapkan hal, sehingga tidak semua hal bisa terungkap. Maka, pasien diminta untuk berbaring di dipan khusus dan psikoanalisnya duduk di belakang. Pasien dan psikoanalis tidak berhadapan langsung, sehingga diharapkan pasien dapat mengungkapkan pikirannya tanpa merasa terganggu, tertahan, atau terhambat oleh terapis.
Cara terapinya yaitu teknik dasar untuk melakukan psikoanalisa ini adalah dengan meminta klien berbaring di dipan khusus (couch) dan terapis duduk dibelakangnya jadi posisi klien menghadap ke arah lain, tidak bertatapan dengan terapis. Klien diminta mengemukakan apa yang muncul dalam pikirannya dengan bebas, tanpa merasa terhambat, tertahan dan tanpa harus memilih mana yang dianggap penting atau tidak penting. Terapis yang duduk di belakang dipan khusus pada dasarnya mendengarkan tanpa menilai atau memberi kritik dan memperlihatkan sikap ingin mengetahui lebih banyak tentang klien. Namun pada saat-saat tertentu, terapis memotong asosiasi bebas yang sedang dikemukakan oleh klien bilamana dianggap penting untuk memperjelas hubungan-hubungan antara asosiasi-asosiasi satu sama lain misalnya ada kaitanya dengan mimpi-mimpi yang dialam.

  1. Penafsiran
Adalah suatu prosedur dalam menganalisa asosiasi bebas, mimpi, resistensi dan transferensi. Dengan kata lain teknik ini digunakan untuk menganalisis teknik-teknik yang lainnya. Prosedurnya terdiri atas tindakan-tindakan analisis yang menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien makna-makna tingkah laku yang dimanifestasikan oleh mimpi-mimpi, asosiasi bebas, resistensi-resistensi dan hubungan terapeutik itu sendiri.
  1. Analisis Mimpi
Adalah prosedur yang penting untuk menyingkap bahan-bahan yang tidak disadari dan memberikan kepada pasien atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Freud menganggap bahwa mimpi merupakan jalan keluar menuju kesadaran karena pada saat tidur, semua pemikiran yang ditekan di alam bawah sadar bisa muncul ke permukaan. Pada teknik ini difokuskan untuk mimpi-mimpi yang berulang-ulang, menakutkan, dan sudah pada taraf mengganggu.
  1. Analisis Resistensi
Adalah dinamika yang tidak disadari untuk mempertahankan kecemasan. Terapis harus bisa menerobos kecemasan yang ada pada pasien sehingga pasien bisa menyadari alasan timbulnya resitensi tersebut. Setelah klien bisa menyadarinya, pasien bisa menanganinya dan bisa mengubah tingkah lakunya.


  1. Analisis Transferensi/Pengalihan
Adalah teknik utama dalam terapi psikoanalis karena dalam teknik ini, masa lalu dihidupkan kembali. Pada teknik ini diharapkan pasien dapat memperoleh pemahaman atas sifatnya sekarang yang merupakan pengaruh dari masa lalunya.

Terapi psikoanalisa ini dapat dihentikan atau dianggap selesai saat klien mengerti akan kenyataan yang sesungguhnya, alasan mengapa mereka melakukan perilaku abnormal, dan menyadari bahwa perilaku tersebut tidak seharusnya mereka lakukan, lalu mereka sadar untuk menghentikan perilaku itu. Terapi psikoanalisa bertujuan untuk mengubah kesadaran individu, sehingga segala sumber permasalahan yang ada didalam diri individu yang semulanya tidak sadar menjadi sadar, mengatasi tahap-tahap perkembangan tidak terpecahkan, membantu klien menyesuaikan dan mengatasi masalahnya, rekonstruksi kepribadian serta meningkatkan kontrol ego sehingga dapat menghadapi kehidupan yang realita, dan mengubah perilaku klien menjadi lebih positif.
Terapi psikoanalisa ini lebih efektif digunakan untuk mengetahui masalah pada diri klien, karena prosesnya dimulai dari mencari tahu pengalaman-pengalaman masa lalu pada diri klien. Apalagi terapi ini memiliki dasar teori yang kuat. Terapi ini bisa membuat klien mengetahui masalah apa yang selama ini tidak disadarinya. Namun terapi ini tetap memiliki kekurangan seperti diperlukan waktu yang panjang dalam melaksanakan terapi, memakan biaya yang banyak, dan memungkinkan klien menjadi jenuh saat terapi.

 Daftar Pustaka
·         Gerald, Corey. (2005). Theory and Practice of Counseling and Psychoterapy.Thompson learning: USA.
·         Naisaban, L. (2004). Para psikolog terkemuka dunia: riwayat hidup, pokok pikiran, dan karya. Jakarta: Gramedia.


Monday, March 14, 2016

Terapi Psikoanalisis

TERAPI PSIKOANALISIS
A.    Sejarah Psikoanalisis
Pada tanggal 6 Mei 1856 Sigmund Freud lahir di Freibreg, kota kecil didaerah Moravia. Ia berasal dari suatu keluarga Yahudi. Ketika ia berumur emapat tahun, keluarganya pindah ke Wina. Ia bekerja pada laboratorium Profesor Breuer, ahli ternama dalama bidang fisiologi (1876-1882). Beberapa tahun lamanya ia mnegadakan riset mengenai kokaine, sejenis obat bius (1884-1887). Pada tahun 1886 ia menikah dengan Martha Bernays dan karena alasan ekonomis ia mengurangi riset ilmiah dan membuka praktek sebgai dokter saraf. Namun, ia meneruskan penelitian dibidang neurologi. Setelah itu ia berkunjung di Berlin dan menulis beberapa karangan penting tentang cacat otak pada anak-anak. Lama-kelamaan perhatiannya  bergeser dari neurologi ke psikopatologi. Terpengaruh oleh Breuer  sekitar tahun 1888 ia memulai memanfaatkan hipnosa dan sugesti dalam praktek ilmiahnya. Intinya  pada tahun (1356 -1939) Freud mengembangkan gagasannya tentang teori psikoanalisa dari praktiknya  dengan pasien yang mengalami gangguan mental. Dan Freud telah menghabiskan waktu hidupnya di Wina tersebut dan kemudian pindah ke London menjelang akhir karirnya. (Gramedia, 1984)
Penemuan yang mengakibatkan nama Frued menjadi masyhur adalah psikoanalisa. Istilah ini diciptakan Frued sendiri dan muncul pertama kalinya pada tahun 1896. Menurut Frued psikonalisa merupakan suatu pandangan baru tentang manusia, diamana ketidaksadaraan memainkan peranan sentral (Gramedia, 1984). Pandangan  Ini mempunyai relevensi parktis, kerena dapat digunakan dalam mengobati pasien-pasien yang mengalami gangguan-gangguan psikis. Tetapi perlu dicatat pengunaan klinis psikoanalisa tidak merupakan perkembangan yang lebih lanjut dikemudian hari. Frued tidak memulai dengan menyusun suatu ajaran. Teori psikonalisa lahir dari praktek dan tidak sebaliknya. Psikoanalisa ditemukan dalam usaha menyembuhka pasien-pasien histeris. Baru kemudian frued menarik kesimpulan-kesimpulan teoritis dari penemuanya dibidang parktis. Frued sendiri beberapa kali menjelaskan arti istiah psikoanalisa, tetapi cara menjelaskannya tidak selalu sama.
Gagasan Sigmund Freud bisa dibagi menjadi empat periode. Periode pertama yaitu periode eksplorasi neurosis pada tahun (1886-1895). Kedua yaitu periode analisa diri (1895-1899). Ketiga yaitu periode elaborasi sistem psikoanalisa serta psikologi id (1900-1914). Keempat atau yang terakhir yaitu periode psikologi ego dari 1914 hingga akhir hayat Sigmund Freud pada tahun 1939.
Dalam periode pertama yaitu eksplorasi neurosis. Tidak beda dengan ilmuan lainnya, Sigmund Freud menggunakan cara hypnosis yang dinamakan kartasis. Dalam kartasis, pasien dihipnotis dan dikembalikan ke suatu memori tarumatis, dan kemudian pasien dibiarkan melepaskan afeksi-afeksi yang tertekan pada saat terjadinya trauma.
Periode kedua yaitu munculnya struktur kepribadian dari Sigmund Freud yaitu struktur id, ego, dan superego. Id merupakan kepribadian yang terdiri dari naluri, yang merupakan sumber energy psikis seseorang. Dalam pandangan Freud sebelumnya, ia sepenuhnya tak sadari bahwa id tidak mempunyai hubungan dengan realitas. Ketika anak mengalami tuntutan dan hambatan dari realitas, suatu struktur kepribadian baru muncul, yaitu ego. Ego adalah cabang eksekutif dari kepribadian karena ego membuat keputusan rasional. Superego adalah struktur kepribadian dari Freud yang merupakan cabang moral dari kepribadian, superego akan menimbang apakah sesuatu itu benar atau salah.
Pada periode 1939 yaitu akhir hayat Sigmund Freud. Setelah Sigmund tutup usia, psikoanalisa cepat dan meluas. Ringkasnya pada tahun 1948 Melanie Klein, Anna Freud 1965 dan masih banyak lagi tokoh-tokoh yang bermunculan setelah wafat Sigmund. ( Sobur, 2003)

B.     Pengertian Psikoanalisis/Psikologi Analisa
Psikoanalisa adalah sebuah model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat manusia dan model psikoterapi. Hasil dari ilmu psikoanalisa mencangkup yang pertama adalah kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, kemudian pemahaman terhadap sifat manusia bisa diterapkan pada peredaran penderitaan manusia.  Kedua, adalah tingkah lakunya ditentukan oleh faktor-faktor tidak sadar. Ketiga, yaitu perkembangan diri masa kanak-kanak memiliki pengaruh yang kuat terhadap kepribadian di masa dewasa.  Keempat, yaitu teori psikoanalisis menyediakan kerangka kerja dalam yang berharga untuk memahami cara-cara yang digunakan oleh individu dalam mengatasi suatu kecemasan dengan mengandaikan adanya mekanisme-mekanisme yang bekerja untuk menghindari luapan kecemasan. Dan yang kelima, pendekatan psikoanalisa telah memberikan cara-cara mencari keterangan dari ketidaksadaran melalui analisis atas mimpi-mimpi, resistensi-resistensi, dan transverensi-transverensi. (Gerald dalam Adiatama, 1997)
Psikoanalisa menurut sejarahnya memiliki tiga makna yang berbeda. Pertama,  merupakan suatu sistem psikologi Sigmund Freud yang secara khusus menekankan peran alam bawah sadar serta kekuatan-kekuatan dinamis dalam pengaturan fungsi psikis. Kedua, merupakan bentuk terapi terutama sekali yang menggunakan asosiasi bebas serta berpijak pada analisa transferensi dan resistensi, sering kali di pergunakan untuk membedakan antara pendekatan Freudian dari pendekatan Neo-Freudian dalam bidang psikoanalisa yang sesuai. (Corsini, dalam Teralitera2003)
Psikoloanalisa dibedakan menjadi tiga arti yang terdapat pada artikel Freud. Pertama, istilah psikoanalisa dipakai untuk menunjukkan suatu metode penelitian terhadap proses-proses psikis (seperti misalnya mimpi) yang sebelumnya hampir tidak terjangkau oleh penelitian ilmiah. Kedua, istilah ini menunjukkan juga suatu teknik untuk mengobati gangguan-gangguan psikis yang dialami pasien-pasien neurotis. Teknik pengobatan ini bertumpu pada metode penelitian tadi. Ketiga, istilah yang sama dipakai pula dalam arti lebih luas lagi untuk menunjukkan seluruh pengetahuan psikologis yang diperoleh melalui metode dan teknik tersebut. Dalam arti terakhir ini kata “psikoanalisa” mengacu pada suatu ilmu pengetahuan yang di mata Freud betul-betul baru. (Gramedia, 1984)
Dua hal yang mendasari teori psikoanalisa Freud adalah asumsi determinisme psikis dan asumsi motivasi tak sadar. Asumsi determinisme psikis (psychic determinism) meyakini bahwa segala sesuatu yang dilakukan, dipikirkan, atau dirasakan individu mempunyai arti dan maksud, dan itu semuanya secara alami sudah ditentukan. Adapun asumsi motivasi tidak sadar (unconscious motivation) meyakini bahwa sebagian besar tingkah laku individu (seperti perbuatan, berpikir, dan merasa) ditentukan oleh motif tak sadar. Freud membagi struktur kepribadian menjadi tiga, dan tiga struktur itu menjadi konsep utama yang ada pada teori psikoanalisa. Perlaku seseorang merupakan hasil interaksi antara ketiga komponen tersebut. Konsep-konsep utama yang terdapat di psikoanalisa itu adalah struktur kepribadian yang terdiri dari id, ego, dan superego. (Corey, dalam Adiatama 1997)

C.    Tujuan Terapi Psikoanalisis
1.      Membentuk kembali struktur karakter individu dg jalan membuat kesadaran yang tak disadari didalam diri klien
2.      Focus pada upaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak

D.    Tekhnik Dasar Terapi Psikoanalisis
1.      Asosiasi Bebas
Adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman  masa lalu dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi-sitausi traumatik di masa lalu
2.      Penafsiran
Adalah suatu prosedur dalam menganalisa asosiasi-asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resintensi-risentensi, dan transferensi
3.      Analisis Mimpi
Suatu prosedur yang penting untuk menyingkap bahan-bahan yang tidak disadari dan memberikan kepada       klien atas beberapa area masalah yang tak terselesaikan
4.      Analisis dan Penafsiran Resistensi
Ditujukan untuk membantu klien agar menyadari alasan-alasan yang ada dibalik resistensi sebagaimana dia bias menanganinya
5.      Analisis dan Penafsiran Transferensi
Adalah teknik utama dalam Psikoanalisis karena mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lalu nya dalam terapi

E.     Kelebihan dan Kekurangan Terapi Psikoanalisis

Kekurangan Terapi Psikoanalisis

1.      Pandangan yang terlalu detirmistik dinilai terlalu merendahkan martabat kemanusiaan.
2.      Terlalu banyak menekankan kepada masa kanak-kanak dan menganggap kehidupan seolah-olah ditentukan oleh masa lalu. Hal ini memberikan gambaran seolah-olah tanggung jawab individu berkurang.
3.      Cenderung meminimalkan rasionalitas
4.      Kurang efisien dari segi waktu dan biaya

Kelebihan Terapi Psikoanalisis
1.      Penggunaan terapi wicara
2.      Kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan dapat memahami sifat manusia untuk meredakan pendertitaan manusia
3.      Pendekatan ini dapat mengatasi kecemasan melalui analisis atas mimpi-mimpi, resintensi-resintensi, dan transfrensi-transfrensi.
4.      Pendekatan ini memberikan kepada konselor suatu kerangka konseptual untuk melihat tingkah laku serta untuk memahami sumber-sumber dan fungsi simptomatologi.



Daftar Pustaka/Sumber
Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, (Bandung: Refika Aditama, 1997)
Raymond Corsini,  Psikoterapi Dewasa Ini, (Surabaya: Ikon Teralitera, 2003)
Sigmund Freud, Memperkenalkan Psikoanalisa Lima Ceramah, (Jakarta: PT.Gramedia,1984)
Nina W. Syam, Psikologi sebagai akar ilmu komunikasi, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2011)